Gali Freitas
Ascielemani – Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) kembali menjadi saksi keajaiban sepak bola Indonesia. Dalam lanjutan pekan terbaru kompetisi kasta tertinggi tanah air, Persebaya Surabaya berhasil mengamankan poin penuh setelah menundukkan perlawanan sengit tim promosi ambisius, Malut United. Sosok yang menjadi pusat perhatian dalam laga ini tak lain adalah bintang asal Timor Leste, Paulo Gali Freitas, yang berhasil mencatatkan brace (dua gol) sekaligus memastikan kemenangan dramatis bagi tim berjuluk Bajol Ijo.
Kemenangan ini bukan sekadar tambahan tiga poin, melainkan pernyataan tegas dari Persebaya bahwa mereka adalah penantang gelar yang serius musim ini. Di sisi lain, Malut United yang datang dengan status tim “kuda hitam” memberikan perlawanan yang membuat puluhan ribu Bonek di tribun sempat menahan napas.
Jalannya Pertandingan Babak Pertama, Dominasi dan Tekanan

Sejak peluit pertama dibunyikan, anak asuh Paul Munster langsung mengambil inisiatif serangan. Mengandalkan formasi agresif, Persebaya mencoba membongkar pertahanan Malut United yang digalang oleh pemain-pemain berpengalaman. Aliran bola dari lini tengah yang dikomandoi oleh Mohammed Rashid tampak sangat cair, memaksa pemain Malut United lebih banyak bertahan di area sendiri.
Gali Freitas, yang dipasang di posisi sayap kanan, berulang kali merepotkan lini belakang lawan dengan kecepatan dan kemampuan dribbling-nya yang eksplosif. Namun, Malut United bukan tanpa perlawanan. Melalui skema serangan balik cepat, mereka sesekali mengancam gawang Persebaya yang dikawal oleh Ernando Ari.
Gol yang ditunggu-tunggu publik GBT akhirnya lahir di pertengahan babak pertama. Berawal dari skema set-piece yang terencana, bola liar jatuh di kaki Gali Freitas. Dengan kontrol satu sentuhan, pemain bernomor punggung andalan ini melepaskan tembakan keras yang tak mampu dihalau kiper Malut United. Skor 1-0 untuk keunggulan tuan rumah membuat atmosfer stadion bergemuruh hebat.
Respon Malut United dan Taktik “Kuda Hitam”
Memasuki babak kedua, Malut United melakukan perubahan taktik. Pelatih mereka memasukkan tenaga baru untuk meningkatkan intensitas serangan. Hasilnya terlihat nyata; tim tamu mulai berani keluar menyerang dan memegang penguasaan bola.
Lini tengah Persebaya sempat kewalahan menghadapi pressing ketat yang diterapkan pemain Malut United. Pertandingan berubah menjadi duel fisik yang intens di area tengah lapangan. Malut United berhasil menciptakan beberapa peluang emas melalui umpan silang dari sisi sayap, namun penyelesaian akhir yang kurang klinis membuat papan skor belum berubah.
Disiplin pertahanan Persebaya benar-benar diuji dalam fase ini. Kadek Raditya dan kolega di lini belakang harus bekerja ekstra keras menghalau gempuran bertubi-tubi dari tim tamu yang mengincar gol penyeimbang.
Brace Gali Freitas, Gol Kemenangan yang Berkelas

Saat pertandingan memasuki menit-menit krusial dan tekanan Malut United semakin memuncak, Persebaya justru berhasil memanfaatkan celah di pertahanan lawan yang mulai terbuka. Melalui skema transisi cepat dari bertahan ke menyerang, Bruno Moreira mengirimkan umpan terobosan akurat kepada Gali Freitas Pemain Persebaya Surabaya.
Gali yang memiliki kecepatan lari di atas rata-rata berhasil memenangkan duel lari dengan bek lawan. Dengan ketenangan luar biasa, ia melakukan gerak tipu sebelum menempatkan bola ke pojok bawah gawang. Gol kedua ini tidak hanya mencatatkan namanya kembali di papan skor, tetapi juga meruntuhkan mental bertanding Malut United.
Dua gol dari Gali Freitas menunjukkan betapa efektifnya peran pemain asing dalam skema Persebaya. Ia tidak hanya berperan sebagai penyelesai peluang, tetapi juga sebagai motor penggerak serangan yang mampu menarik perhatian 2-3 pemain lawan sekaligus.
Analisis Statistik: Efisiensi Bajol Ijo vs Agresivitas Laskar Kie Raha
Jika melihat statistik akhir pertandingan, laga ini sebenarnya cukup berimbang. Malut United unggul tipis dalam penguasaan bola di babak kedua, namun Persebaya jauh lebih efektif dalam pemanfaatan peluang.
| Statistik | Persebaya Surabaya | Malut United |
| Tembakan Tepat Sasaran | 7 | 4 |
| Penguasaan Bola | 48% | 52% |
| Pelanggaran | 12 | 15 |
| Tendangan Sudut | 5 | 3 |
Efisiensi menjadi kata kunci kemenangan Persebaya. Meskipun tidak mendominasi bola secara mutlak, setiap kali mereka masuk ke area final third, ancaman yang diberikan selalu nyata. Sementara itu, Malut United perlu mengevaluasi koordinasi lini belakang mereka saat menghadapi serangan balik cepat, karena kedua gol Gali Freitas berawal dari celah yang muncul akibat koordinasi yang longgar.
Atmosfer GBT: Pemain Ke-12 yang Tak Tergantikan
Kemenangan ini tidak bisa dilepaskan dari peran Bonek dan Bonita yang memadati Stadion Gelora Bung Tomo. Nyanyian semangat yang tak berhenti selama 90 menit memberikan energi tambahan bagi para pemain Persebaya, terutama saat mereka ditekan di awal babak kedua.
Paul Munster dalam sesi konferensi pers pascapertandingan secara khusus memberikan kredit kepada para suporter. Menurutnya, atmosfer di GBT selalu membuat tim lawan merasa terintimidasi dan memberikan motivasi ekstra bagi timnya untuk tampil habis-habisan. Koreografi yang ditampilkan di tribun juga menambah semarak pertandingan malam itu, membuktikan bahwa Surabaya tetap menjadi salah satu kiblat sepak bola paling bergairah di Indonesia.
Dampak Klasemen dan Proyeksi Kedepan

Dengan tambahan tiga poin ini, Persebaya Surabaya merangkak naik ke posisi papan atas klasemen sementara. Ini menjadi modal berharga sebelum mereka menjalani laga tandang yang berat di pekan berikutnya. Bagi Gali Freitas secara individu, brace ini meningkatkan kepercayaan dirinya dalam perburuan gelar top skor kompetisi.
Bagi Malut United, kekalahan ini menjadi pelajaran berharga. Sebagai tim baru di kasta tertinggi, kemampuan mereka mengimbangi permainan tim besar seperti Persebaya adalah catatan positif. Jika mereka mampu memperbaiki penyelesaian akhir dan koordinasi pertahanan, Malut United diprediksi akan menjadi tim yang sulit dikalahkan oleh siapapun musim ini.
Malam Milik Gali Freitas dan Surabaya
Pertandingan antara Persebaya vs Malut United berakhir dengan skor meyakinkan, namun diraih dengan perjuangan yang tidak mudah. Gali Freitas muncul sebagai pahlawan, membuktikan bahwa investasi Persebaya pada talenta regional Asia Tenggara membuahkan hasil manis.
Persebaya kini menatap masa depan dengan optimisme tinggi. Jika konsistensi permainan dan ketajaman lini depan dapat dipertahankan, bukan tidak mungkin trofi juara akan kembali pulang ke Kota Pahlawan di akhir musim nanti. Sementara Malut United, meski pulang tanpa poin, mereka pulang dengan kepala tegak karena telah memberikan tontonan sepak bola yang berkualitas bagi pencinta sepak bola nasional.
